Berfoto ala Noni Belanda, warna baru wisata Malioboro di tengah ramainya libur Nataru

Written by berkahjaya

Januari 7, 2026

KABAR SLEMAN – Malioboro kembali menunjukkan kemampuannya beradaptasi mengikuti selera wisatawan. Di tengah ramainya libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, kawasan ikonik Yogyakarta ini tak hanya menawarkan pengalaman berfoto dengan busana adat Jawa, tetapi juga menghadirkan konsep baru yang mencuri perhatian: foto ala Noni Belanda.

Konsep ini menjadi warna baru di tengah padatnya aktivitas wisata Nataru. Jika sebelumnya wisatawan identik mengenakan kebaya dan beskap, kini mereka bisa tampil bak perempuan Eropa tempo dulu dengan gaun bergaya Victorian dan Noni Dress.

Kehadiran konsep ini langsung menyita perhatian karena memberi sensasi berbeda saat menyusuri Malioboro yang dipenuhi bangunan berarsitektur kolonial.

Pemilik jasa foto, Vincensio Rafael, mengatakan ide tersebut muncul dari keinginannya menghadirkan sesuatu yang belum banyak ada di Malioboro. Menurutnya, karakter bangunan lama di kawasan itu sangat cocok dipadukan dengan kostum bernuansa Eropa klasik.

“Bangunan di Malioboro itu sebenarnya masuk juga kalau dipadukan dengan konsep Eropa. Jadi bukan cuma adat Jawa saja,” ujarnya, seperti diberitakan RRI.

Beberapa titik favorit untuk sesi pemotretan antara lain area sekitar gedung Bank Indonesia dan deretan bangunan lama yang masih terjaga fasadnya. Dengan latar tersebut, wisatawan seolah diajak “pulang” ke masa lampau. Konsep ini pun mendapat respons positif karena dianggap unik dan fotogenik.

Untuk menikmati pengalaman ini, wisatawan cukup merogoh kocek di bawah Rp100 ribu dengan durasi pemotretan sekitar satu jam. Harga yang relatif terjangkau membuat konsep ini cepat menarik minat, terutama wisatawan muda yang gemar berburu konten estetik.

Salah satu wisatawan asal Jakarta, Profi Kristianto, mengaku tertarik karena konsep ini berbeda dari kebanyakan jasa foto di Malioboro. Menurutnya, nuansa Belanda terasa pas dengan suasana kawasan yang dipenuhi bangunan peninggalan kolonial.

“Jadi sorotan orang-orang karena beda. Biasanya kan pakai baju adat Jawa. Ini rasanya kayak balik ke zaman dulu,” ujarnya.

Di sisi lain, busana adat Jawa tetap menjadi primadona selama libur Nataru. Banyak wisatawan dari berbagai daerah sengaja memilih Yogyakarta karena merasa dekat secara budaya. Aktivitas berfoto dengan pakaian tradisional dinilai bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara mengenal dan mengabadikan kekayaan budaya lokal.

Arif, salah satu fotografer di Malioboro, menyebut lonjakan wisatawan selama libur akhir tahun berdampak langsung pada pendapatannya. Jumlah pengguna jasa foto meningkat hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.

“Kalau libur Nataru, pengunjung jelas naik. Pendapatan bisa meningkat sampai 100 persen,” katanya.

Dalam sehari, ia bisa melayani sekitar 20–30 orang. Tarif yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp125 ribu untuk satu orang hingga Rp575 ribu untuk rombongan 10 orang lengkap dengan busana adat Jawa.

Perpaduan antara konsep tradisional dan sentuhan Eropa ini menunjukkan Malioboro terus berkembang sebagai ruang kreatif wisata. Bukan hanya tempat berjalan-jalan, tetapi juga panggung ekspresi budaya lintas zaman yang semakin diminati wisatawan.***

You May Also Like…

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *